Pati Bumi Mina Tani

Adikku

Hati ini rasanya menjerit tatkala melihat dia pertama kali setelah sekian lama tak bertemu. Dia sudah di atas kursi roda dan tak bisa berbicara secara wajar. Suara yang keluar seperti bindeng dan sangat tak jelas. kami berpelukan sembari tubuhku menahan agar dia tidak sampai jatuh. Astaghfirullahaldziim, ucapku dalam hati.
Memang…info yang saya terima demikian adanya, tetapi rasanya hati ini belum bisa menerima kenyataan yang ada. Dia adalah adikku, lahir pada bulan Maret 1963, dikarunia tiga anak dan yang paling besar baru kelas 2 SMA, sedangkan yang paling kecil SD kelas 1. Berdasarkan cerita sana sini tetangga dan saudara-saudaraku, penyakit adikku yang secara medis dinamakan stroke makin hari makin parah, karena memang kepedulian dari keluarganya (anak-istri) yang kurang, padahal kalau benar-benar intens, insya Allah tidaklah lama. Oleh karena itulah masa liburku jelang tahun baru 2011 kugunakan untuk menjemput adik di Jakarta setelah dia melakukan perjalanan panjang dari Bengkulu. Saat ini secara berurutan ditangani oleh Guru saya Bp. H. Lizam Sutrisno, kemudian ahli pijat urat (Bp. Sema’un Tlogowungu, Bp. Toni Perum Griya Kencana dan Pak Agus Gemiring), dan Ibu Sri Rejeki dari dukuh Asem Doyong, Gondoharum termasuk juga untuk yang sejenis adalah Bu Nur Rendole (3 dan 6 x kami hentikan), Tusuk Jarum Pak Erno Ndosoman, dan sudah barang tentu keponakanku dr. Hesti dan dr. Wahib Hasyim yang senantiasa mendasarkan hasil laboratorium barulah memberikan obat dan advisnya.
Sebagai bentuk kepedulian keluargaku, maka langkah pertama istri tercintaku menyulap dari wc tongkrong menjadi wc duduk. Hal ini untuk memudahkan adikku dalam BBA (Buang Air Besar) dan di dalam kamar mandi disediakan asesoris yang memang dibutuhkan seperti kursi dsb. Selain istri, anakku nomor dua Danial Aulia Marhaendra juga sempat menjadi mandor dan kuli sekaligus karena mendatangkan tukang untuk berbenah sana-sini.
Waktu itu hari Jumat dengan menggunakan pesawat penerbangan Sriwijaya Boeing 727-200 kami mendarat di lapangan udara Ahmad Yani Semarang, dan dijemput oleh keponakan yakni Mas Sularto, Mbak Wiwik dan putrinya Dewi.
Bagaimanakah proses pengobatan yang dilakukan oleh beberapa tokoh tersebut, berikut kisahnya:

1. Guruku, Moch. Lizamul Haq Sutrisno: dengan kemampuan madzalnya, ia tertantang untuk mencari ramuan herbal hingga beberapa waktu dan alhamdulillah 43 ragam tanaman disuling dan jadilah beberapa botol cairan yang dikonsumsi tiap hari tiga kali dan di oplos dengan Soman produksi Gorontalo. Fungsi utamanya adalah membuka jaringan saraf yang telah lengket atau tertutup. Dengan dipadukan pijatan dari Pak Agus Gemiring, adikku sudah bisa saya boncengkan sepeda motor untuk berangkat jumatan dan keliling desa. Kemudian posisi sholat sudah tidak bergantung pada kursi roda, tetapi langsung ndoprok di lantai dan bisa sujud.

2. Masih oleh yang bersangkutan yaitu Guruku, juga atas info dari sahabatnya di Banten, beliau pinjam alat berupa “batu bulat pipih” dari Eyang Tondonegoro yang ditempelkan di pusar adikku.

3. Kami sekeluarga hanyalah memfasilitasi segala keperluannya. Danial menyediakan makan setiap saat termasuk obat yang harus diminum. Kadangkala mengganti sprei dan ngepel kamar termasuk urusan ompol dan aroma pesing.

Nah yang paling saya salut adalah istriku sendiri, dengan penuh kesabaran dan disertai humor untuk bercanda dengannya. Ini yang saya tidak bisa melakukan, dan tergantikan oleh istriku. Semoga saja Allah tetap memberikan kesabaran dan semangat bagi kami semua, dan semangat untuk sembuh bagi adikku serta kesembuhan itu sendiri. Amiin ya Rabbal alamiin.

Bagi anda yang ingin mengetahui tentang gejala stroke bagi teman, saudara ataupun diri sendiri setidaknya ada tiga cara “STR” untuk mengenali gejala awal stroke.Smile, mintalah penderita untuk tersenyum, apabila pipinya miring maka telah ada kelumpuhan saraf. Sebuah tanda yang sangat jelas. Seharusnya aku mengetahui ini segera setelah melihat keanehan pada foto kiriman adekku, sehingga obat penurun kolesterol dan tekanan darah akan membuat papaku terhindar dari serangan stroke.  Talk, mintalah orang tersebut untuk berbicara kalimat singkat, apabila terdengar pelo, ini adalah gejala stroke.Raise both arms, mintalah agar orang tersebut mengangkat kedua tangannya, kalau tidak bisa, ini pertanda bahwa kelumpuhan mulai menyerang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s